Minggu, 23 Agustus 2009

Doa Buka Puasa













Sumber : http://ramadan.detik.com Selanjutnya ....

Jumat, 26 Juni 2009

Jagalah Lisanmu

Dalam sebuah hadis disebutkan "Sesungguhnya orang yang paling banyak tanggungan dosanya kelak di hari kiamat ialah siapa yang paling banyak omong (bicara) dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya".(HR Ibnu Nashr).

Dalam hadis lain, dikatakan, Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah mengendalikan lisan." (HR Baihaqi).
"Seorang hamba tidak mencapai hakikat iman sehingga ia sendiri mengendalikan lisannya." (HR Ath-Thabrani).
"Allah akan memberi rahmat-Nya pada orang yang memelihara lisannya, mengenal zamannya, dan lempang (lurus) jalan hidupnya.(HR Abu Nu'aim).


Mengenai pentingnya menjaga lidah (lisan), Ali bin Abi Thalib berkata, "Harga seseorang terletak pada apa yang ia mampu melakukannya". Rasul bersabda, "Lisan bakal disiksa dengan siksaan yang tidak menimpa anggota tubuh lainnya. Lalu, lisan berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menyiksaku dengan siksaan yang tidak Engkau siksa anggota tubuh lainnya?"

Lalu, dijawab, "Dari engkaulah telah terlontar ucapan yang sampai ke dunia timur dan barat. Kemudian, karena ucapan itu pula terjadi pembunuhan secara haram, perampasan harta, dan pemerkosaan secara haram, maka demi Keagungan-Ku, niscaya Aku akan menyiksamu dengan siksaan yang tidak Aku timpakan atas anggota tubuh lainnya".(HR Abu Nu'aim).

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan.
Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Allah SWT SWT berfirman, "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa: 114)

Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rasulullah SAW bersabda, "Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Hurairh RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar. (HR. Muslim)

Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah SAW bersabda, "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda." (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani)

Kelima, tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah RAh berkata, "Sesungguhnya Nabi SAW apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya" (HR. Bukhari-Muslim).
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Wallahu’alam bi Shawaab.
Selanjutnya ....

Kamis, 21 Mei 2009

Bersama kesulitan ada kemudahan

Saat Anda melihat hamparan padang sahara yang seolah memanjang tanpa batas, ketahuilah bahwa di balik kejauhan itu terdapat kebun yang rimbun penuh hijau dedaunan.
Ketika Anda melihat seutas tali meregang kencang, ketahuilah bahwa,tali itu akan segera putus.
Setiap tangisan akan berujung dengan senyuman, ketakutan akan berakhir dengan rasa aman, dan kegelisahan akan sirna oleh kedamaian.
Kobaran api tidak mampu membakar tubuh Nabi Ibrahim a.s. Dan itu, karena pertolongan Ilahi membuka "jendela" seraya berkata:
{Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.} (QS. Al-Anbiya': 69)
Lautan luas tak kuasa menenggelamkan Kalimur Rahman (Musa a.s). Itu, tak lain karena suara agung kala itu telah bertitah,
{Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya, Rabb-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.} (QS. Asy-Syu'ara:: 62)

Ketika bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam sebuah gua, Nabi Muhammad s.a.w. yang ma'shum mengabarkan kepada Abu Bakar bahwa Allah Yang Maha Tunggal dan Maha Tinggi ada bersama mereka. Sehingga, rasa aman, tenteram dan tenang pun datang menyelimuti Abu Bakar. Mereka yang terpaku pada waktu yang terbatas dan pada kondisi yang (mungkin) sangat kelam, umumnya hanya akan merasakan kesusahan, kesengsaraan, dan keputusasaan dalam hidup mereka. Itu, karena mereka hanya menatap dinding-dinding kamar dan pintu-pintu rumah mereka.
Padahal, mereka seharusnya menembuskan pandangan sampai ke belakang tabir dan berpikir lebih jauh tentang hal-hal yang berada di luar pagar rumahnya.
Maka dari itu, jangan pernah merasa terhimpit sejengkalpun, karena setiap keadaan pasti berubah. Dan sebaik-baik ibadah adalah menanti kemudahan dengan sabar. Betapapun, hari demi hari akan terus bergulir, tahun demi tahun akan selalu berganti, malam demi malam pun datang silih berganti. Meski demikian, yang gaib akan tetap tersembunyi, dan Sang Maha Bijaksana tetap pada keadaan dan segala sifat-Nya. Dan Allah mungkin akan menciptakan sesuatu yang baru setelah itu semua. Tetapi sesungguhnya, setelah kesulitan itu tetap akan muncul kemudahan.

Dikutip dari buku La-Tahzan karangan DR. 'Aidh Al-Qarni
Selanjutnya ....

Rabu, 06 Mei 2009

Rumah Bertahtakan Intan Berlian

Dalam Al-quran surat Al-Hadid : 11, Allah SWT berfirman yang artinya :"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak".


Ketika mendengar ayat tersebut, seorang sahabat Anshar bernama Abu Dahdah datang menemui Rasulullah SAW, Ya Rasulullah, benarkah kalau kita berinfak sama dengan menjamin Allah sebagai Qardl? "Benar wahai Abu Dahdah" . jawab Rasulullah SAW. "Ya Rasulullah, kemarikan tanganmu". Rasulullah SAW lalu mengulurkan tangannya kepada Abu Dahdah, setelah tangan Rasulullah SAW dipegangnya, ia berkata "Mulai hari ini aku pinjamkan kepada Allah pekaranganku. Didalamnya ada 600 pohon kurma."

Rasulullah SAW pun ia bawa ke halaman rumah itu dan dipanggilah istrinya. "Wahai Ummu Dahdah". "labbaik ya suamiku". Istrinya menjawab. "Rumah ini dan segala isinya telah aku pinjamkan kepada Allah, sebab itu marilah keluarkan seisi rumah dan anak-anak sekaligus".

Menurut riwayat, sang istri Ummu Dahdah segera menyambut dengan ucapan, "Jual beli yang beruntung, wahai suamiku tercinta Abu Dahdah".
Keduanya lalu berkemas, mengeluarkan harta yang perlu dari rumahnya. Melihat itu Rasulullah SAW bersabda "Allah akan menggantikan untuk Abu dahdah sekeluarga rumah di Surga bertahtakan Intan Berlian". Subhanallah...

Segelintir kisah ini tentunya bagi orang-orang yang memiliki iman akan menggugah, betapa besar ganjaran yang Allah SWT berikan kepada Abu Dahdah yang mewakafkan halamannya untuk dimanfaatkan. Bagaimana dengan kita yang meiliki tanah berhektar-hektar dimana-mana? Surga menanti orang-orang yang dermawan....

Selanjutnya ....

Jumat, 01 Mei 2009

Jadilah engkau pemaaf

Meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain adalah pekerjaan yang sangat dianjurkan dalam agama. Tapi biasanya ketika kita secara sengaja atau tidak sengaja melakukan suatu kekeliruan, sikap meminta maaf dan memberi maaf terkadang berat untuk dilakukan.


Kata maaf memang gampang diucapkan, tetapi betapa beratnya menjadi pemaaf. Itu sebabnya seorang pemaaf sangat mulia di sisi Allah.
Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur'an tentang sikap pemaaf ini.
Allah SWT berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A'raf: 199)
فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85)
وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy-Syura: 43)

Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya kira-kira begini:
“Barangsiapa melakukan tiga hal berikut, ia akan di hisab dengan mudah dan akan masuk surga dengan rahmatNya. Pertama, memberi kepada orang yang bakhil. Kedua, silaturahim dengan orang yang memutuskannya. Ketiga, memberi maaf kepada orang yang zalim.” (HR Ath-Thabrani).

Pertama, dalam kacamata Islam, pemaaf adalah ciri utama dari orang sabar (lihat QS Asysyura [42]: 42-43). Mereka yang berbuat zalim pada manusia dan tidak meminta maaf, siksa yang pedih ganjarannya.

Kedua, maaf menjadi benteng dari tipu daya setan (lihat QS Almaidah [5]: 91). Hal yang sering luput dari pantauan kita bahwa kebencian, permusuhan, dan dendam adalah program utama setan.

Ketiga, adalah kewajiban Muslim untuk memaafkan karena tidak satu pun manusia ini bersih dari dosa (lihat QS Annajm [53]: 32). Hanya Allah subbuuhun qudduusun Mahasuci lagi Menyucikan, begitu sucinya Allah, Dia pun tetap memaafkan sebesar apa pun dosa hamba-Nya (lihat QS Azzumar [39]: 53).

Keempat, ingat! Kelapangan dada, kejernihan berpikir, kerendahan hati, dan sifat maaf adalah tanda kemuliaan akhlak. ”Siapa yang rendah hati, Allah angkat derajatnya,” demikian sabda Nabi Muhammad SAW.

Kelima, maaf menjadi pintu silaturahim, perdamaian, persaudaraan, dan ketenangan. Alangkah indahnya suasana ini, karena itu tidak tepat mempertahankan ego atau gengsi yang sebenarnya menunjukkan kesombongan diri.

Keenam, maaf menjadi jalan keluar dari berbagai masalah. Siapa tahu yang melakukan kesalahan tidak sengaja, salah paham, belum mengerti, atau berlatar belakang yang berbeda, maka dengan maaf semua kembali cair. Dengan maaf kita juga bisa melakukan koreksi diri, boleh jadi kita pun pernah menyakiti orang lain atau karena kesalahan masa lalu atau karena Allah ingin menguji kesabaran kita (lihat QS Ali Imran [3]: 134).

Ketujuh, maaf adalah kunci surga. Ingat sabda Nabi, ”Tidak akan masuk surga seorang yang pendendam.” (Muttafaq ‘Alaih). Sungguh bodoh bila kita menjadi terlalu sombong dan gengsi untuk meminta maaf. Karena, sikap ini hanya akan mengantarkan kita ke pintu neraka. Mari saling memaafkan.

Selanjutnya ....

Rabu, 22 April 2009

Termasuk golongan manakah anda dalam melaksanakan shalat ?


Manusia dalam melakukan shalat ada lima tingkatan yaitu:

Pertama, orang yang menganiaya dirinya sendiri, yang suka mengurangi, yaitu orang yang tidak menyempurnakan wudhu, tidak memperhatikan waktu-waktu shalat, dan suka mengurangi batasan-batasan shalat dan rukun-rukunnya.

Kedua, orang yang selalu menjaga waktu-waktu shalat, batasan-batasannya, dan rukun-rukunnya yang bersifat lahiriah serta menyempurnakan wudhu, namun ia suka menyia-nyiakan hati untuk berusaha secara optimal menyingkirkan waswas dari dalam hatinya sehingga ia terbawa oleh perasaan waswas dan pemikiran (yang bukan-bukan).


Ketiga, orang yang menjaga batasan-batasan shalat dan rukun-rukunnya, di samping berusaha dengan sekuat hati untuk memerangi dirinya dalam rangka menolak waswas. Jadi ia disibukkan dengan berjuang memerangi syetan. Hal itu dilakukan agar ia tidak sampai mencuri shalatnya. Dengan demikian, ia benar-benar mengerjakan shalat dan berjuang melawan setan.

Keempat, orang yang apabila berdiri shalat, ia berusaha menyempurnakan kewajiban-kewajiban shalat, rukun-rukunnya dan batasan-batasannya secara maksimal sambil hatinya hanyut dalam memperhatikan batasan-batasan dan kewajiban-kewajibannya. Hal itu dilakukan agar ia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya. Justru, konsentrasinya selalu difokuskan kepada penyempurnaan shalatmya. Bahkan, hatinya tenggelam dalam penghayatan terhadap kedudukan shalat dan penghambaan diri kepada Rabb-Nya.

Kelima, orang yang apabila berdiri untuk shalat maka hatinya diarahkan dan diletakkannnya di hadapan Rabb-Nya. Ia melihat rabb-nya dengan hati nuraninya. Ia selalu merasa diawasi oleh-Nya. Hatinya penuh kecintaan kepada-Nya. Seakan-akan ia bisa menyaksikan-Nya dengan mata kepalanya. Dengan demikian gugurlah segala waswas dan bisikan setan dan terangkalah tabir yang menghalangi antara dia dan Rabb-Nya. Tabir yang menghalangi antara dirinya dan selain-Nya dalam shalat, lebih besar daripada jarak antara langit dan buimi. Orang yang disibukkan dengan memikirkan Allah ketika shalat maka ia akan merasakan kesejukan dalam hatinya.

Berdasarkan tingkatan tersebut maka golongan pertama akan menerima siksaan dari Allah. Golongan kedua akan dihisab-Nya. Golongan ketiga dosanya akan dihapus oleh-Nya. Golongan keempat akan mendapat pahala dari-Nya. Golongan kelima akan didekatkan kepada Rabb-Nya. Barangsiapa yang hatinya merasa sejuk disebabkan melaksanakan shalat di dunia maka hatinya akan merasa sejuk karena dekatnya kepada Rabb Azza wa jalla di akhirat kelak dikarenakan dekat kepada-Nya di dunia. Barangsiapa yang hatinya tidak merasa sejuk karena dekat kepada Allah maka ia meninggalkan dunia fana dengan kekecewaan dan penyesalan.


Referensi
Muhammad Al-Munajjid dalam 33 sabab li al-khusyu' fii al-shalat
Selanjutnya ....

Baca juga yang ini .......

Berita Nasional